Puisi Di Sunyi yang Menjaga Namaku

Puisi  Di Sunyi yang Menjaga Namaku

Oleh : IDI



Di antara jeda waktu yang tak pernah selesai,

aku berjalan mencari diriku yang hilang

di balik daun-daun gugur yang tak sempat pamit pada angin.

Segalanya terasa jauh, namun selalu memanggil

seperti nyala kecil yang enggan padam

di ujung malam yang menua.


Ada luka yang tumbuh tanpa suara,

menyimpan rahasia tentang keberanian

yang tak pernah aku sadari wujudnya.

Ia menari di tepian cahaya,

mengajarkan bahwa setiap manusia

adalah kitab yang ditulis ulang oleh takdir

tanpa pernah kita meminta.


Aku belajar dari sunyi,

bahwa diam bukan berarti kalah,

melainkan ruang suci tempat harapan

menyulam dirinya menjadi kekuatan.

Bahwa remuk bukan akhir,

melainkan lantai pertama

bagi seseorang yang ingin berdiri lebih tinggi.


Kini aku kembali mengumpulkan diriku,

seperti puing-puing bintang

yang jatuh dari langit pada malam kelahirannya.

Kutatap dunia dengan mata yang baru,

mata yang mengerti bahwa cahaya

tak pernah datang sia-sia

bagi mereka yang mau menunggu.


Jika esok masih gelap,

biarlah aku menjadi lentera kecil

yang menjaga namaku tetap bernyala.

Sebab manusia bukan tentang seberapa kuat ia bertahan,

melainkan seberapa tulus ia kembali bangkit

meski hatinya pernah dijatuhkan berkali-kali.


Posting Komentar untuk "Puisi Di Sunyi yang Menjaga Namaku"