Dari Laut ke Tanah Suci: Kisah Kemakmuran Nelayan Air Bangis dan Julukan “Makkah Kecil”
Jika sejarah Air Bangis banyak dikenal karena pelabuhan dan perdagangannya, maka kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari laut. Sejak dahulu kala, laut menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat Air Bangis.
Dengan garis pantai sepanjang lebih dari 72 kilometer, Air Bangis menjadi kawasan pesisir terpanjang di Kabupaten Pasaman Barat. Tidak mengherankan jika sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Penghasil Ikan Terbesar di Pasaman Barat
Hingga kini Air Bangis dikenal sebagai salah satu sentra perikanan terbesar di Sumatera Barat. Aktivitas ekonomi masyarakat banyak berpusat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir.
Sejak tahun 1950-an, hasil tangkapan nelayan Air Bangis telah menjadi pemasok utama kebutuhan ikan laut di sepanjang Pantai Barat Sumatera. Berbagai jenis ikan seperti tenggiri, cakalang, bawal, teri, udang, hiu, dan aso-aso menjadi hasil tangkapan utama masyarakat.
Pada tahun 1977, produksi ikan laut segar Air Bangis tercatat mencapai sekitar 3.500 ton per tahun. Jumlah tersebut belum termasuk produksi ikan kering yang mencapai lebih dari 500 ton setiap tahunnya.
Tradisi Mengolah Minyak Hiu
Selain menangkap ikan, masyarakat Air Bangis juga dikenal memproduksi minyak hiu yang pada masa lalu disebut sebagai “hati ikan tjutut”.
Minyak ini diproduksi secara tradisional dan digunakan untuk berbagai kebutuhan. Dalam perkembangannya, minyak hiu bahkan diolah menjadi minyak ikan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Sementara itu, sirip dan ekor hiu menjadi komoditas yang diminati para pedagang Tionghoa yang datang ke kawasan Air Bangis.
Air Bangis dan Julukan Makkah Kecil
Kemakmuran masyarakat Air Bangis pada masa lalu tidak hanya terlihat dari aktivitas perdagangan dan perikanan, tetapi juga dari kehidupan keagamaannya.
Pada periode 1950 hingga 1970, banyak masyarakat Air Bangis yang berangkat menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama ke Mekkah. Sepulang dari Tanah Suci, mereka menjadi tokoh agama yang menyebarkan ilmu kepada masyarakat.
Fenomena tersebut membuat Air Bangis mendapat julukan sebagai “Makkah Kaciak” atau “Makkah Kecil”.
Julukan ini bukan sekadar simbol religius, tetapi juga menggambarkan tingginya semangat masyarakat dalam mendalami ilmu agama serta kemampuan ekonomi mereka untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Air Bangis Tetap Bertahan Sebagai Kampung Nelayan
Ketika perkebunan kelapa sawit mulai berkembang di Pasaman pada era 1980-an hingga 2000-an, banyak masyarakat di daerah lain beralih profesi menjadi pekerja perkebunan.
Namun kondisi tersebut tidak banyak memengaruhi masyarakat Air Bangis. Sebagian besar tetap memilih bertahan sebagai nelayan karena laut telah menjadi bagian dari identitas dan kehidupan mereka sejak turun-temurun.
Bahkan hingga saat ini, sektor perikanan masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat Air Bangis.

baru tau air bangis pernah dapat julukan makkah kecil
BalasHapus